Home

SURVEI PRASASTI DAN NASKAH ULU DI BENGKULU

Survei tahun 2015 ini melengkapi tiga dari empat tahun survei di wilayah Provinsi Bengkulu. Dimulai tahun 2013 di Museum Negeri Bengkulu, tahun 2014 di Kabupaten Lebong dan Kabupaten Rejang Lebong. Tahun 2015, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Kabupaten Bengkulu Utara dan terakhir di tahun 2016 di Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur.

Dalam survei kali ini, khusus untuk prasasti dan naskah ulu hanya ditemukan tiga buah, yaitu dua buah prasasti tanduk kerbau dan sebuah naskah kulit kayu atau kaghas. Prasasti tanduk yang ditemukan pertama dalam penelitian tahun 2015 ini terdapat di Desa Kertapati, Kecamatan Pagarjati, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu. Prasasti ini merupakan bagian dari tanduk utuh, yang kemudian dibelah menjadi empat bagian. Pada salah satu bagian tanduk inilah terdapat tulisan beraksara lokal (Aksara Rejang/Ulu), yang dipahatkan pada bagian permukaan dan bagian dalam tanduk. Kondisi tanduk sudah agak rapuh.

Di masa lalu, untuk menurunkan benda-benda tersebut harus melalui selamatan dengan menyembelih satu ekor ayam. Berdasarkan informasi dari salah satu keluarga penyimpan naskah, yaitu Bapak Mulyadi (Kabid Kebudayaan Kab. Benteng), benda-benda tersebut merupakan warisan dari Depati Awaludinsyah. Tulisan di bagian permukaan tanduk terdiri dari tiga baris dengan ukuran aksara sedang. Tulisannya tampak tidak lengkap. Tulisan di dalam tanduk berjumlah dua baris dalam keadaan aus sehingga sulit untuk dibaca. Sirkam yang disimpan bersama-sama dengan prasasti dari tanduk tersebut juga terbuat dari tanduk dan memiliki ukuran panjang 13,3 cm, lebar 6-7 cm dan tebal 0,1 cm. Kondisi sirkan sudah rusak bagian sisirnya.

Prasasti tanduk kedua terdapat di Desa Kebunlebar, Kecamatan Pematanglebar, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Kondisi tanduk dalam keadaan baik, yang merupakan seperempat bagian dari tanduk utuh. Sekarang, prasasti dari tanduk ini disimpan oleh Bapak Suradi. Prasasti milik Suradi ini memiliki tiga baris tulisan, yang ditulis dalam aksara rejang. Ukuran aksara antara 0,5—0,7 cm dan jarak antar baris adalah 0,3—0,4 cm. Ukuran tanduk yaitu panjang 41 cm, lebar bagian pangkal 7 cm, dan lebar bagian ujung 0,3 cm. Panjang ukuran ruang tulis adalah 34 cm, sedangkan lebar ukuran ruang tulis adalah 2,7 cm.

Naskah (Khagas) merupakan koleksi Bapak Robinson didapat dari warisan keluarganya yang berasal dari Pasemah Air Keruh, Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan. Kondisi naskah relatif utuh, namun di beberapa bagian naskah tampak berjamur dan tulisannya banyak yang luntur. Naskah  terbuat dari kulit kayu (kaghas). Naskah ini memiliki sampul berwarna coklat kusam dan kondisinya sudah tidak utuh, pecah-pecah.

Ukuran aksara yang ditulis dengan tinta berwarna hitam adalah 0,8—1 cm dengan spasi 0,5-1 cm. Ukuran tulisan yang ditulis dengan tinta biru adalah 0,8 cm, sedangkan jarak antar tulisan yaitu 1 cm. Ukuran panjang tulisan dengan pencil adalah 1,5 cm dengan spasi antara 0,8—1 cm. Naskah ini merupakan naskah asli, tetapi tidak memiliki jenis titi mangsa atau pertanggalan. Panjang ukuran ruang naskah yakni 9,5 cm dan lebar ukuran ruang naskah 8,6 cm. Panjang ukuran ruang tulis yaitu 9 cm dan lebar ukuran ruang tulis yakni 8,5 cm, dan tebal naskah 1,3 cm.

Selain prasasti dan naskah ulu tersebut, tim kali ini menemukan juga beberapa benda-benda arkeologi yang masih belum tersentuh oleh para ahli arkeologi, yaitu: tempayan kubur, menhir, dan dolmen. Tempayan kubur ditemukan di Desa Tebatmonok, Kecamatan Kepahyang, Kabupaten Kepahyang, Provinsi Bengkulu.

Situs berada di atas tanah vulkanis yang sekarang merupakan lokasi penambangan galian tipe C. Dengan demikian lokasi temuan sudah dalam keadaan rusak dan sulit untuk menentukan kondisi awal situs sebelum proses penambangan. Kubur tempayan awalnya ditemukan karena proses penggalian dengan menggunakan alat berat yang mengakibatkan tempayan-tempayan di dalam tanah pecah. Di antara pecahan-pecahan tersebut terdapat satu tempayan dalam keadaan relatif utuh yang sudah diangkat dari matriksnya. Ukuran tempayan ini adalah tinggi 51 cm, lingkaran bagian atas 56 cm, lingkaran bagian bawah 122 cm, dan tebal 1 cm. Tempayan ini terbuat dari pasir lempungan berwarna merah. Berdasarkan pecahan tepian dan badan tempayan yang dikumpulkan di tepi ‘danau’ bekas galian pasir, dapat diketahui sekurang-kurangnya berasal dari lima tempayan dengan ukuran yang berbeda.

Berdasarkan informasi Bapak Arbi, di dalam tempayan-tempayan yang telah pecah di dalamnya terdapat satu atau dua beliung persegi dan belincung utuh, yang sekarang disimpan yang bersangkutan. Jumlah belincung yang disimpan Bapak Arbi ada tiga buah, sedangkan beliung persegi ada 6 buah.

Menhir terbuat dari batu vulkanis dan berukuran tinggi 112 cm, lebar bagian bawah 23 cm, lebar bagian atas 10 cm, dan tebal 17 cm. Pada bagian bawah menhir ini terdapat dua pahatan ikan yang satu di antaranya berukuran panjang 27 cm.