Penelitian Arkeologi Maritim Peran Pulau Belitung bagian Selatan dalam Jalur Perdagangan Pada Awal Abad XX

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 sampai dengan 21 Oktober 2018, diketuai oleh Aryandini Novita, SS dengan anggota tim  Armadi, ST, Yanto HM Manurung, MHum, Jepriadi A Lumbu, SS, Ari Mukti Wardoyo Adi, MA, Fitriani. Penyelia pada penelitian ini adalah Dr Junus Satrio Atmodjo dan narasumber Dr Dadang H Purnama, MHum. Sebagai tim pendukung pada penelitian ini adalah Nakayama, Hardi, Herwan Budiansyah penyelam dari Emas Diving Club  dan Nurcandra Yusada dari Dinas Perikanan Kabupaten Belitung.

Secara umum tinggalan-tinggalan arkeologi di bagian selatan Pulau Belitung ini memiliki jenis yang sama dengan tinggalan arkeologi yang ditemukan di bagian barat dan utara pulau ini sehingga tinggalan-tinggalan arkeologi tersebut dapat dijadikan indikator bahwa di bagian selatan Pulau Belitung terdapat aktivitas yang terkait dengan pelayaran masa lalu. Berdasarkan hal ini maka penelitian ini berawal dari pertanyaan penelitian bagaimana peran Pulau Belitung bagian selatan dalam jalur pelayaran masa lalu mengingat di kawasan perairan ini ditemukan juga indikasi adanya aktivitas yang terkait dengan pelayaran masa lalu? Adapun tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan masyarakat yang bermukim di pantai selatan Pulau Belitung dengan perairan di wilayah tersebut pada masa lalu melalui gambaran pemanfaatan ruang di wilayah tersebut.

Peta 1. Situs-situs di lokasi penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan lanskap budaya maritim dengan fokus pengamatan berupa sumber daya arkeologi yang berada di laut dan di darat, topografi, pengetahuan lokal dan toponimi. Hasil penelitian menunjukkan temuan kapal tenggelam di Situs Karang Kennedy dapat dijadikan bukti bahwa nusantara juga merupakan bagian dari perdagangan internasional. Meskipun secara keseluruhan bentuk dari kapal yang tenggelam tersebut sudah tidak dapat dikenali lagi, namun temuan sebaran batu bara menunjukkan bahwa kapal tersebut merupakan kapal uap yang dalam pelayarannya mengalami kecelakaan dan akhirnya karam di perairan Karang Kennedy.

Foto 1. Kegiatan survei di Situs Karang Kennedy

Interaksi masyarakat di lokasi penelitian dengan lingkungannya dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber daya yang berasal dari dua lingkungan yang berbeda, yaitu laut dan darat. Secara geografis bagian selatan Pulau Belitung yang menjadi lokasi penelitian tidak memiliki sungai-sungai yang besar sehingga tidak dapat dilayari. Sumberdaya alam yang tersedia di lokasi penelitian utamanya dimanfaatkan untuk subsistensi dan kelebihan pasokan akan dijual yang hasil penjualan tersebut digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak diproduksi oleh masyarakat setempat. Temuan artefak yang merupakan barang impor juga menunjukkan di lokasi penelitian telah terjadi perdagangan. Hal ini juga menunjukkan bahwa penduduk Pulau Belitung bagian selatan menjadi kontributor dari sistem perdagangan antar wilayah berjarak jauh.

Foto 2. Kegiatan survei dan wawancara di darat

Peta 2. Situasi situs-situs di daratan

Peta 3. Variasi artefak temuan hasil penelitian

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bertulisan Mantra Berbahan Timah, Prasasti Logam Abad Ke-14 yang Pertama Kali Ditemukan di Sumbagsel

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Sebanyak 11 prasasti berbahan timah didapatkan Wahyu Rizky Andhifani selaku peneliti ahli Epigrafi Balar Sumsel dari kolektor di Muntok Bangka Barat.

Peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Sumsel, berkeyakinan bahwa prasasti berbahan timah yang didapatkan merupakan prasasti logam untuk pertama kalinya didapatkan di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)

“Saya analisis prasasti berbahan timah ini berasal dari abad 14. Prasasti bertuliskan aksara Sumatera Kuno dengan berbahaya Melayu kuno,” ujar Wahyu Risky Andhifani, ketika sosialisasi di Kafe Dipo Jalan Diponegoro Kecamatan IB II Palembang, Senin (19/11/2018).

Dikatakan Wahyu, didapatkannya prasasti logam berbahan timah ini menunjukkan juga bukti bahwa timah telah dipergunakan sejak abad 14. Selama ini berdasarkan data sebelumnya, timah dipergunakan pada abad ke 17 masa penjajahan Belanda.

“Sementara ini kita analisis tulisannya yang ada pada prasasti timah ini berupa tulisan mantra. Kemungkinan bisa jadi mantra untuk perjalanan atau hal lainnya. Tapi kita belum ketahui secara pasti, siapa yang menulis dan dibuat siapa serta diperuntukkan siapa,” ujar Wahyu.

Selain mendapatkan 11 prasasti berbahan logam dari kolektor di Bangka, Wahyu mengatakan, didapatkan juga prasasti yang sama dari kolektor di Cengal Pantai Timur Kabupaten OKI.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tulisan Mantra Dominasi Artefak Aksara di Sumbagsel

Palembang, Detik Sumsel – Penelitian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Arkeologi Sumatera Selatan, mengungkapkan Hasil Arkeologi Identitas Aksara dan Bahasa Sumbagsel di Dipo Cafe Palembang, Senin (19/11).

Arkeolog dari Balai Arkeologi Sumsel, Wahyu Rizky Abdhifani yang melakukan penelitian mengungkapkan selama melakukan penelitian aksara sejak awal nopember lalu telah menemukan 80an artefak aksara dan bahasa yang memakai bahan timah, tembaga dan emas. “Selama melakukan penilitian aksara ini sudah lebih 80an, bisa 100an, artefak aksara bisa terjadi di abad 14 tapi bisa terjadi pada abad ke 9, sementara itu namanya ada di dominasi Timah, Tembaga dan emas, sekita tiga,” ungkapnya.

Diceritakan Wahyu, Penelitian ini tentang Indentitas aksara dan bahasa di wilayah Sumbagsel, jadi dimulai di tanggal 2 November 2018, dimulai di Muntok Bangka Barat, ada sekitar sebelas prasasti timah yang ada di sana dan telah deskriptif dan analisa. “Setelah dari sana, lalu ke pantai timur Sumsel, daerah Cengal dan Selapan, karena cuaca tidak memungkinkan hanya mendapatkan ada tiga prasasti, namun prasasti di sana banyak sudah di simpan oleh kolektor di daerah Palembang,” jelasnya.

Lalu lanjut ke Jambi, lanjutnya, disana ada satu yayasan yaitu yayasan Patmasana yang telah menyimpan dan mengkoleksi 60 prasasti timah, hingga sampai kewalahan untuk mendiskripsikan dan analisa “Tidak semuanya bergambar atau beraksara, ada beberapa yang kosong, tapi dari Identifikasi kita memang cenderung ke sumatera kuno, Pruto ulu dan ulu,” terangnya.

Menurut dia, Sumatera Kuno atau aksara aditya (Aditya Warman) pada abad 13-14, itu berkembang di wilayah Sumbagsel, Dharmasraya ibukota Kerajaan Melayu Kuno abad ke-13 soalnya, dan sekarang menjadi nama kabupaten di Sumatera Barat, Muaro Jambi, Pantai Timur Sumsel namun akan dianalisa, telaah akan ada suatu yang baru.

“Tetapi untuk sekarang prasastinya banyak yang berjenis mantra, siapa yang memberikan itu?, itu masih di pertanyakan apakah seorang biksu budha yang memberikan kepada seorang, ataukah ini dibuat oleh seseoran mungkin dukun, kita belum tahu siapa yang menulis hal tersebut?,” jelasnya.

Sementara itu, Arkeolog, Ninie Susani dari UI mengatakan bahwa aksara merupakan simbol yang di rangkai dengan satu sistem tertentu sehingga yabg bermakna dan berfungsi sebagai alat komunikasi seseorang dengan sesamanya yang memiliki bahasa yang sama. “Aksara dipergunakan dalam bahasa daerah misalnya bahasa Jawa kuno, Bali kuno, Melayu kuno, Sumatera itu sudah menyatu dalam tradisi kuno. Betapa kayanya kita dengan tradisi bahasa tulis kita miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain,” katanya.

Dikatakan Ninie, Salah satunya Prasasti timah adalah jati diri dri sumbagsel, ratusan prasasti yang ada di Sumbagsel. “Kekaguman saya pada Sumatera Sumsel itu luar biasa masyarakt sangat mengerti menulis, kita bisa merekonstruksi warisan Sumatera kuno dengann tulisan prasasrti kuno,” pungkasnya (fir)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dua Arkeolog Dari Balar Sumsel Tampil Di Kongres ke -21 IPPA, Vietnam


BP/IST
Arkeolog dari Balar Sumsel Retno Purwati dan Sondang M. Siregar tampil di Kongres ke-21 _the Indo-Pacific Prehistory Association_ (IPPA) di Hue, Vietnam, pada tanggal 23-28 September 2018.

Para peneliti arkeologi Asia Pasifik bertemu di Kongres ke-21 _the Indo-Pacific Prehistory Association_ (IPPA) di Hue, Vietnam, pada tanggal 23-28 September 2018. Termasuk arkeolog dari Balar Arkeologi (Balar) Sumatera Selatan (Sumsel). Arkeolog dari Balar Sumsel Retno Purwati mengaku ikut serta dalam pemaparan hasil penelitian di Vietnam tersebut. “Ya.. pertemuan tiap tiga tahun sekali. Bagi kami dari Indonesia, ini merupakan salah satu ajang untuk mempresentasikan hasil-hasil penelitian ke dunia luar,” katanya, Selasa (25/9). Retno mengatakan, Indonesia hanya dikenal di dunia untuk masa plestosen-holosene, karena memang gudangnya bukti – bukti, keberadaaan manusia di masa itu. Selain masa itu, Indonesia tidak dikenal, termasuk soal Sriwijaya.

“Karena ini ajang para pakar prasejarah, jadi kami mempresentasikan hasil penelitian masa Proto histori di Sumsel,” katanya. Untuk Sumatera, Retno mengatakan diwakili oleh Sondang M. Siregar dan dirinya dari Balar Sumsel serta Taufiqurrahman dari Balai Arkeologi Sumatera Utara (Sumut). “Kebetulan, Saya dan Ibu Sondang menulis tentang Protohistoric traces of settlement ini the Inland of South Sumatera,”ungkapnya. Arkeolog Asal Sumsel ini menjelaskan bahwa Protohistoric traces of settlement ini the Inland of South Sumatera, adalah mengrnai bicara tentang masa Proto sejarah di Sumsel. Masa transisi antara masa prasejarah dan sejarah. Masa ini di Sumsel rentangnya panjang sekali, dari masa neolitik 3.500 th yang lalu, sampai abad ke-19 saat Islam mulai dikenal di Sumsel.

“Masa sejarah di Sumsel saat masyarakat sudah mengembangkan aksara lokal, yaitu aksara katanya atau aksara ulu. Sebelum itu, meski ada Sriwijaya, tapi aksaranya Pallawa, aksara dari India, yang hanya bisa dibaca dan dimengerti oleh elit politik dan Agamawan,”jelasnya. Harapan Retno, Diajang seperti ini, janganlah Pemerintah, menganggap penelitian dan pengembangan selama ini dianggap hanya sekedar menghabiskan anggaran negara,” katanya. Dan dana itu menurutnya, tidak hanya dari pemerintah, tapi juga dari para pengusaha, perseorangan yang peduli, selain lembaga penelitian, karena di sebagian besar negara maju peserta kongres ini, milyaran dollar dana digelontorkan untuk penelitian.

“Kalau pemerintah mau maju, kedepankan penelitian dan pengembangannya, dan sebarkan hasil penelitian itu ke dunia luas,” katanya. Adhi Agus Oktaviana, peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balitbang Kemendikbud menjelaskan IPPA merupakan wadah bagi para peneliti Asia Pasifik dalam bidang kajian prasejarah dan ilmu-ilmu pendukungnya, seperti geologi, paleogenetik, paleoantropologi, paleontologi, dan arkeologi maritim. Kongres ini dilaksanakan setiap empat tahun sekali. “Sebanyak 500 penelitian dipaparkan dalam kongres kali ini,” ujar Adhi Agus Oktaviana, peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balitbang Kemendikbud.

Selain itu, Indonesia memegang peranan penting dalam empat sesi dalam kongres tersebut, yaitu: _New Developments in Humans, Culture, and Environment During Pleistocene -Holocene of Insular Southeast Asia; Connecting The Dots: The Past of the Maluku Archipelago in a Multidisciplinary Perspective; Proto-History of Indonesian Archipelago and New Evidences of Its Interaction to Mainland of Asia And Southeast Asia; dan Southeast Asian Rock Art Beyond Images_.

“Dibandingkan dengan kongres IPPA tahun 2014 di Kamboja, kali ini delegasi Indonesia yang mempresentasikan penelitian meningkat. Kongres ini juga dimanfaatkan para peneliti arkeologi Indonesia untuk menambah ilmu dan memperluas jejaring pada tingkat internasional,” katanya.#osk

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Retno Purwati, Arkeolog Sumsel Presentasikan Proto Historis di Vietnam

Palembang, Pelita Sumsel – Lebih dari 500 peneliti arkelogi dari 45 negara Asia Pasifik, bertemu di Kongres ke-21 the Indo-Pacific Prehistory Association_ (IPPA), 23 sampai 28 September 2018, di Hue,Vietnam.

Hal itu dikatakan oleh, Retno Purwati, Arkeolog asal Sumatera Selatan(Sumsel), yang ikut serta dalam pemaparan hasil penelitian di Vietnam tersebut, saat dihubungi Pelita Sumsel langsung dari Vietnam.

“Ini pertemuan tiap tiga tahun sekali. Bagi kami dari Indonesia, ini merupakan salah satu ajang untuk mempresentasikan hasil-hasil penelitian ke dunia luar,”ungkap Retno,selasa (25/9).

Selama ini, Retno mengatakan Indonesia hanya dikenal di dunia untuk masa plestosen-holosene, karena memang gudangnya bukti – bukti, keberadaaan manusia di masa itu. Selain masa itu, Indonesia tidak dikenal, termasuk soal Sriwijaya.

“Karena ini ajang para pakar prasejarah, jadi kami mempresentasikan hasil penelitian masa Proto histori di Sumsel,” ujarnya.

Untuk Sumatera, Retno mengatakan diwakili oleh Sondang M. Siregar dan Retno Purwanti dari Balai Arkeologi Sumsel serta Taufiqurrahman dari Balai Arkeologi Sumatera Utara (Sumut).

“Kebetulan, Saya dan Ibu Sondang menulis tentang Protohistoric traces of settlement ini the Inland of South Sumatera,”ungkapnya.

Arkeolog Asal Sumsel ini menjelaskan bahwa Protohistoric traces of settlement ini the Inland of South Sumatera, adalah mengrnai bicara tentang masa Proto sejarah di Sumsel. Masa transisi antara masa prasejarah dan sejarah. Masa ini di Sumsel rentangnya panjang sekali, dari masa neolitik 3.500 th yang lalu, sampai abad ke-19 saat Islam mulai dikenal di Sumsel.

“Masa sejarah di Sumsel saat masyarakat sudah mengembangkan aksara lokal, yaitu aksara katanya atau aksara ulu. Sebelum itu, meski ada Sriwijaya, tapi aksaranya Pallawa,  aksara dari India, yang hanya bisa dibaca dan dimengerti oleh elit politik dan Agamawan,”jelasnya.

Harapan Retno, Diajang seperti ini, janganlah Pemerintah, menganggap penelitian dan pengembangan selama ini dianggap hanya sekedar menghabiskan anggaran negara. Dan dana itu tidak hanya dari pemerintah, tapi juga dari para pengusaha, perseorangan yang peduli, selain lembaga penelitian, karena di sebagian besar negara maju peserta kongres ini, milyaran dollar dana digelontorkan untuk penelitian.

“Kalau pemerintah mau maju, kedepankan penelitian dan pengembangannya, dan sebarkan hasil penelitian itu ke dunia luas,” tutupnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menjawab Polemik Sriwijaya

Jadi polemik masalah Kedatuan Sriwijaya sebenarnya sudah ada sejak dahulu, itu kesemuanya berdasarkan atas asumsi – asumsi yang memilik dasar kajian ilmiah, Hal itu dikatakan, Sejarahwan Palembang, Kemas Ari Panji, terkait menyikapi beredarnya sebuah pemberitaan yang menyebutkan Sriwijaya bukanlah sebuah kerajaan, saat ditemui Pelitasumsel, Senin(24/9).

Untuk masalah Kedatuan Sriwijaya, Kemas mengatakan, dari beberapa temuan prasasti – prasasti yang ditemukan memang tidak secara spesifik mengatakan klaim bahwa itu raja atau disini tempat Sriwijaya, Tapi menyebutkan Silifosi, Zabag, Swarnadwipa dan lain sebagainya. “Itu diidentikkan oleh para ahli adalah Sriwijaya, nah saat kita ingin membantah itu, kita juga harus memberikan bukti-bukti lain untuk membantah hal itu, jadi secara teori, kalau asumsi itu bisa terbantahkan kalau ada teori baru,” ujarnya.

Kemas melanjutkan, menurut catatan I Thsing yang pernah berkunjung ke Sriwijaya, matahari tepat di atas kepala saat beliau datang ke Sriwijaya, berarti kalau dikaji secara hukum Geografi, I Thsing tepat berada di garis Katulistiwa, jadi tidakkan mungkin Sriwijaya itu jauh dari garis Katulistiwa. “Yang memungkinkan itu adalah Palembang dan Jambi, siapa yang mau membantah hal itu, harus juga mengeluarkan bukti baru juga,”ujarnya.

Hal senada dikatakan, Ahli Epigrafi Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Wahyu Rizky Andhifani bahwa, pertentangan tersebut memang sudah ada sejak lama dan masing – masing punya alibi dan asumsi sendiri dan itu sah – sah saja. “Jadi saya teringat tahun 2012 antara Jambi dan Palembang berebut Sriwijaya, saya diutus kantor yang berbicara bersama kak Erwan dan mbak Farida. Saya meluruskan bahwa sah – sah saja Jambi mengklaim dia Sriwijaya tapi abad ke berapa?,” ungkap Wahyu.

Menurut Keterangan Wahyu dari  beberapa hasil temuan, Sriwijaya masa emasnya beribukota di Palembang pada abad 7 sampai abad ke 10, kemudian di abad 11 Sriwijaya pindah ke Jambi dan abad 13 pindah ke Kedah, itu sesuai dengan berita Cina dan Prasasti dan wajar ibukota Sriwijaya berpindah, kemungkinan ada serangan dari Jawa ataupun serangan dari Cola India. Muaro Jambi dan Kadaram (kedah) merupakan bagian dari Sriwijaya ketika Sriwijaya beribukota di Palembang. Ibarat Indonesia beribukota di Jakarta, dan yang lainnya merupakan provinsi di bawah bendera Indonesia.

“Bila mereka bilang, dia Sriwijaya ya silahkan, tapi Palembang adalah tempat awal Sriwijaya dan berhasil mencapai puncaknya,”tegas Wahyu. “Saya sudah baca sinopsis bukunya yang berjudul Sribudda Bukan Sriwijaya dan Bangsa Pelaut Kisah Setua Waktu, itu sah-sah saja, kalau sang penulis buku itu mengatakan hal itu, data dukungnya juga cukup,” ujarnya. Namun, Wahyu mengungkapkan, sang penulis mengatakan ada 2 prasasti yang menyebut masalah datu Sriwijaya yaitu Kota Kapur dan Kedukan Bukit (Sriwijaya). “Tapi, ada 1 yang terlewat yakni Prasasti Baturaja yang kemaren saya temukan, itu juga memuat Datu Sriwijaya,”ujarnya. Wahyu melanjutkan memang banyak,beredar di dunia maya terkait tulisan sang penulis buku tersebut, lebih banyak membahas Sriboza dikaitkan dengan Sribuddha dan Bukan sriwijaya, Itupun sah sah saja.

“Makanya di buku yang hitam dia menulis Sribuddha bukan Sriwijaya, bukannya Sriboza bukan Sriwijaya,”jelas Wahyu. Wahyu berharap, selama ini ilmu dan beberapa gelintir kebenaran yang ada di dalamnya, kenapa harus diperdebatkan.Karena bagi dirinya ilmu makin lama makin berkembang dengan baik. “Jika ada sesuatu yang baru yang perlu dipahami, itu kita ambil selama sesuai dengan kaidah dan teori – teori yang ada,”tutupnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Peninjauan Temuan Struktur “Tangga Kuno” di Kelurahan Kuto Batu, Palembang

Oleh:
Budi Wiyana, Aryandini Novita,
Sondang M Siregar, Wahyu R Andhifani, Sigit E Prasetyo

 

Kegiatan peninjauan ini berawal dari pemberitaan Surat Kabar Berita Pagi  Rabu, 12 September 2018, yang menyebutkan bahwa sebuah tim kecil dari Dinas Pariwisata kota Palembang telah menemukan tinggalan arkeologi yang diduga kuat berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam. Dalam pemberitaan tersebut dijelaskan bahwa tangga tersebut berlokasi di tepian Sungai Musi, tepatnya di muara Sungai Jeruju. Diberitakan juga bahwa bentuk dari struktur tersebut mirip bangunan di Situs Cagar Budaya Ki Gede in Suro dan salah satu anggota tim menyatakan bahwa temuan tersebut merupakan pelabuhan (http://beritapagi.co.id/2018/09/12/ditemukan-dermaga-kuno-diduga-kuat-dari-zaman-kesultanan-palembang.html). Berdasarkan hal tersebut Balai Arkeologi Sumatera Selatan melakukan peninjauan ke lokasi untuk melihat kebenaran informasi dan mendata keberadaan temuan “tangga kuno” yang diduga berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam tersebut.

Secara administrasi temuan struktur “tangga kuno” berada di wilayah Lorong Asia, Kelurahan Kuto Batu, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang (Peta 1). Lokasi geografis temuan berada di 2o58’56,35” LS dan 104o46’19,50” BT. Keletakan temuan berada di sisi barat Sungai Jeruju dan menghadap langsung ke Sungai Musi (Peta 2). Lokasi temuan struktur terdapat di sekitar pembangunan jembatan Musi IV yang berjarak kurang lebih 100 meter ke arah utara dari pembangunan jembatan tersebut (Foto 1).

Informasi dari penduduk setempat lokasi ditemukannya struktur “tangga kuno” tersebut merupakan lahan milik Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab, seorang pedagang keturunan Arab yang lebih dikenal oleh penduduk setempat dengan nama Bapak Hasan Solo (Foto 2). Diungkapkan juga bahwa struktur tersebut merupakan tempat orang untuk naik dan turun dari perahu menuju rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab yang saat ini sudah hancur.

Peta 1. Lokasi Administrasi Temuan Struktur

Peta 2. Lokasi Geografis Temuan Struktur

Foto 1. Jarak Temuan Struktur Dari Lokasi Jembatan Musi IV

Foto 2. Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab

Secara umum kondisi struktur sudah hancur namun masih dapat diindikasikan bentuk utuhnya. Secara umum struktur tangga yang terbuat dari susunan bata berspesi (Foto 3).  Bata-bata tersebut disusun dengan perekat campuran pasir, kapur dan tumbukan bata, namun perekat ini sudah banyak yang terkelupas. Struktur ini menghadap ke arah sungai (255°). Anak tangga yang paling bawah berupa beton, kemudian diatasnya baru anak tangga dari bata yang disusun berdiri, berjumlah 30 buah susunan, menghadap Sungai Musi. Anak tangga dari atas ke bawah berjumlah 11 dengan tinggi masing-masing anak tangga 23 cm dengan lebar 25 cm. Bata yang digunakan berukuran 24 x 10 x 5 cm, sedikit lebih besar dari bata sekarang. Penampakan struktur tangga dari atas berbentuk trapesium dengan bagian bawah lebih lebar dan semakin ke atas semakin sempit pada bagian tepian tangga. Bagian bawah struktur panjang maksimal 7,5 meter bagian atas struktur panjang maksimal 3,7 meter, tinggi struktur dari permukaan tanah sekarang 1,15 meter.  Panjang anak tangga 1, 85 meter, lebar tepian tangga paling bawah  2,4 meter dan lebar tepian tangga paling bawah 1,2 meter. Di kanan dan kiri struktur terdapat runtuhan bekas bangunan yang kemungkinan besar merupakan satu bangunan dengan struktur tangga. pada bagian atas struktur, terdapat mesin pompa air dengan paralon berukuran 0,5 inci yang digunakan untuk menyedot air dari Sungai Musi dan dialiri ke rumah warga. Pengukuran hanya dilakukan sampai bagian bawah dengan posisi rata dengan permukaan Sungai Musi (Foto 4).

Foto 3. Temuan Struktur “Tangga Kuno”

Pada bagian barat laut dari struktur terdapat tangga naik menuju ke rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab. Kondisi tangga tersebut sudah hancur sehingga tidak diketahui lagi jumlah anak tangganya. Pada sisi kirinya masih ditemukan pipi tangga yang memiliki hiasan kerawangan dengan motif geometris (Foto 5). Rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab, saat ini sudah hancur dan yang tersisa hanya bagian tangganya saja. Berdasarkan foto lama yang dimiliki oleh informan (Bapak Idris dan Bapak Fahri) diketahui bahwa rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab merupakan bangunan kayu bertingkat dua dengan gaya arsitektur Indies dan tangga naik di rumah tersebut berada di sisi barat (Foto 6 dan 7). Salah satu informan juga menyebutkan bahwa terdapat angka tahun yang tertera di bagian depan rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab, yaitu 1922.

Foto 4. Tampak Depan Struktur “Tangga Kuno”

Foto 5. Tangga menuju rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab

Foto 6. Sisa tangga rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab

Foto 7. Bentuk asli rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab

Analisis dan Pembahasan
Secara umum lokasi temuan struktur berada di wilayah Situs Kotabatu atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Kampung Bayas. Situs Kotabatu adalah situs pemukiman kelompok etnis Arab yang telah ada sejak abad ke 18. Situs Kutobatu berupa dataran rendah yang dikelilingi oleh sungai-sungai, yaitu Sungai Musi di bagian selatan, Sungai Jeruju di bagian timur, Sungai Bayas di bagian barat dan Sungai Senggoro di bagian utara. Temuan struktur ini terletak di sisi barat Sungai Jeruju yang juga merupakan batas timur dari Situs Kotabatu (Peta 3).

Peta 3. Keletakan Temuan Struktur di Situs Kutobatu

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan tentang pemukiman kelompok etnis Arab di Kota Palembang pada tahun 2006, diketahui bahwa Situs Kutobatu merupakan salah satu pemukiman kelompok etnis Arab tertua yang terdapat di Kota Palembang. Hal tersebut ditunjang pula oleh Peta Kota Palembang tahun 1821 yang menggambarkan bahwa pada masa  itu terdapat pemukiman kelompok etnis Arab yang berada di sisi utara dan selatan Sungai Musi .

Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa Kesultanan Palembang Darussalam kelompok etnis Arab memiliki keistimewaan dengan diperbolehkannya mereka untuk menetap di daratan. Catatan Komisaris Hindia Belanda JL van Sevenhoven, menyatakan bahwa pada tahun 1822 penduduk Kota Palembang selain penduduk asli juga terdapat orang-orang Cina, Arab dan orang asing lainnya. Dikatakan bahwa orang Cina umumnya bertempattinggal di rakit-rakit, sementara orang Arab menetap di daratan dan mempunyai kampung sendiri (Sevenhoven 1971: 33). Diperbolehkannya orang-orang Arab untuk menetap di daratan menurut Mujib (2000) dikarenakan mereka disenangi oleh penguasa Palembang pada masa itu bahkan karena keilmuannya ada yang dijadikan pembimbing keagamaan keluarga Kesultanan. Orang-orang Arab juga berperan sebagai juru tulis kitab-kitab Agama Islam. Dalam Syair Perang Menteng disebutkan bahwa orang-orang Arab juga ikut membantu Sultan Palembang melawan Belanda.

Hingga saat ini komunitas keturunan Arab di Palembang umumnya berprofesi sebagai pedagang dan profesi ini telah dilakukan secara turun-temurun. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, komunitas keturunan Arab menjadi pemeran utama dalam kegiatan tersebut. Meskipun pada masa Kolonial Hindia Belanda peran tersebut tergantikan oleh kelompok etnis Cina, tidak menjadikan komunitas keturunan Arab beralih profesi bahkan sebagian tetap menjadi saudagar dan pengusaha.

Pada dasarnya status sosial ekonomi seseorang berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat, pekerjaan, bahkan pendidikan. Status atau kedudukan memiliki dua aspek yaitu aspek struktural dan aspek fungsional. Aspek struktural bersifat hierarkis yaitu status yang secara relatif mengandung perbandingan tinggi atau rendahnya terhadap status-status lain; sedangkan aspek fungsional atau peranan sosial yang berkaitan dengan status-status yang dimiliki seseorang. Kedudukan atau status memiliki pengertian posisi atau tempat seseorang dalam sebuah kelompok sosial. Semakin tinggi kedudukan seseorang maka makin mudah pula dalam memperoleh fasilitas yang diperlukan dan diinginkan (Abdulsyani, 2007:91).

Secara umum dalam setiap individu memiliki sesuatu yang dihargai yang terkait dengan status individu tersebut di masyarakat. Secara materi status tersebut diwujudkan dalam bentuk benda-benda yang bersifat ekonomi seperti uang, tanah, rumah maupun benda-benda lainnya yang menunjukkan indentitas sosial pemiliknya (Leibo 1995:57). Berdasarkan hasil penelitian arkeologi dan ditunjang oleh data sejarah, diketahui bahwa sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam komunitas keturunan Arab memiliki merupakan orang-orang yang terpandang. Status tersebut diperoleh mereka antara lain karena peran mereka dalam perekonomian di mana mereka berprofesi sebagai saudagar. Secara materi, wujud dari status mereka tersebut dapat dilihat dari gaya arsitektur rumah termasuk eksterior dan interiornya (Novita 2006).

Menurut Joko Sukiman (2000), gaya atau style dapat dijadikan identifikasi dari gaya hidup, gaya seni budaya, atau peradaban suatu masyarakat. Berdasarkan pengamatan di lapangan, rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab menunjukkan ciri yang berbeda dengan rumah-rumah di Situs Kotabatu, yaitu adanya tangga naik dan turun dari perahu sendiri. Jika dikaitkan dengan gaya arsitektur rumah Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab maka keberadaan tangga naik dan turun dari perahu yang terdapat di belakang rumah tersebut dapat dikatakan merupakan simbol status sosial keluarga Bapak Hasan bin Husin bin Syech Sahab. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa hunian di Situs Kotabatu memiliki satu tangga naik dan turun dari perahu yang digunakan bersama-sama, seperti umumnya pemukiman-pemukiman komunitas keturunan Arab di Palembang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Penelitian di Komplek Percandian Muara Jambi

Penelitian di Komplek Percandian Muara Jambi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan dalam tahun anggaran 2018. Penelitian ini dilakukan selama delapan belas hari dengan ketua Retno Purwanti, penyelia D.S. Nugrahani, dan anggota Wahyu Rizky Andhifani, Hendra, Titet Fauzi Rachmawan, Sondang M. Siregar, Rusman, Untung, Ida Ayu Maria Handini, dan Muhammad Yusuf. Selain itu juga melibatkan mahasiswa arkeologi Universitas Jambi yang terlibat dengan mata kuliah ekskavasi.

Penelitian ini dilakukan dengan dua cara yaitu survei dan ekskavasi. Survei dilakukan terutama dilakukan oleh Hendra sebagai ahli hidrologi untuk melihat kaitan antara kanal, parit, dan sungai di wilayah Muara Jambi dengan komplek percandiannya.  Tim ekskavasi merupakan tim dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan dengan penyelia dan mahasiswa Universitas Jambi. Terutama dilakukan untuk melihat fungsi dan apa saja isi dari Menapo Ujung Tanjung 2.

Tujuan dari tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi latar belakang pendirian percandian Muarajambi terutama kosmologi keseluruhan di percandian Muara Jambi. Dengan  sasaran penelitian ini adalah candi-candi di Muara Jambi, Menapo Ujung Tanjung 2, parit (kanal), sungai, dan sebaran artefak. Sehingga dapat dilihat kaitan antara latar pendirian bangunan candi dan penempatannya.

Berdasarkan konsep Budhisme, pemukiman terletak di sebelah selatan Gunung Meru. Gunung Meru dalam mikrokosmos diwujudkan dalam bentuk bangunan suci (candi). Lokasi tempat tinggal manusia di sebelah selatan candi ini ditemukan pada candi-candi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta. Di Candi Kedaton, lokasi permukiman ada di sebelah barat daya dan timur laut dari candi induk sehingga berbeda dengan konsep makrokosmos dalam konsep kosmologi Buddha. Perbedaan keletakan pemukiman ini diduga merupakan kearifan lokal masyarakat pendukung situs Muarajambi dan sekaligus menunjukkan adanya keberagaman penerapan konsep kosmologi dari India di Indonesia.

Dari hasil survei dapat dilihat bahwa kosmologi yang dijelaskan pada penelitian ini adalah pembagian trilokya budhisme atau pola-pola geometris seperti teratai dengan komponen koginisi cakrawalanya. Pola ini tidak memiliki bidang batas lanskap yang tegas karena batas lanskap kosmologis dapat berupa batas satuan geomorfologi, baik genetik maupun satuan morfometri, sehingga perlu dicarikan batas-batas entitas yang jelas sebagai pembatas mandala-mandala kosmologisnya. Dari hasil pemetaan lapangan, maka air atau batas air atau sungai sebagai entitas fisik dapat digunakan untuk melakukan pendekatan terhadap “rekonstruksi sementara” kosmologi di kawasan percandian Muaro Jambi.

  1. Sungai Batang Hari, dengan ketinggian muka air 3 m pada saat kemarau dapat dijadikan entitas fisik penanda keberadaan dari elemen kognitif Kamadatu (bwahloka),
  2. Dua kanal timur barat, kanal “terusan“ Parit Johor dan kanal Sungai Selat-S.Jambi-S.Amburan Jalo adalah elemen kognitif rupa datu dengan ketinggian datum air maksimal 7 meter adalah elemen kognitif Rupadatu, dan
  3. Rawa tadah hujan dengan ketinggian datum air diatas 9 meter menjadi elemen kognitif Arupadatu.

Berdasarkan penelitian ini Kosmologi percandian Muaro Jambi secara regional berbentuk ladamkuda yang dibatasi oleh Aliran Sungai Batanghari, Sungai Brembang,  dan Sungai Seno (Sungai Terusan). Kemudian secara makro berbentuk kepulauan (archipelago) sementara mikronya berbentuk parit ladamkuda. Tetapi penelitian ini perlu diperkuat lagi dengan melihat hubungan kosmologi ini dengan candi dan pemukiman yang ada.

Kosmologi Percandian Muara Jambi (Dok. Hendra)

Temuan yang dihasilkan dalam ekskavasi berupa artefak logam, gerabah, keramik, bata, dan arang. Temuan yang paling terlihat adalah temuan berupa saluran air yang terdiri atas lima buah saluran dengan dibatasi bata utuh dibagian tengah dan bata yang dipotong pada kedua sisinya. Belum diketahui fungsi dari saluran air ini karena letaknya yang lebih tinggi dari permukaan sungai. Hipotesis sementara saluran air ini merupakan adalah bagian dari pemandian, merupakan saluran air biasa, merupakan alat untuk menambang emas karena temuan wadah merkuri di tempat yang sama. Kesimpulan akhir akan diperoleh setelah ada temuan pendukung yang lain

Saluran air terlihat dari atas (Dok. Balar Sumsel)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PRASASTI BATURAJA

Oleh: Wahyu Rizky Andhifani

Koleksi Bapak Amiril Mukmin yang sehari-hari menjadi pegawai Mitra Ogan (30 tahun) sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Ogan Komering Ulu. Beliau, beralamat di Jalan Gotong Royong Lorong Teratai IX, Desa Air Paoh, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan.

Batu bertulis tersebut beliau dapatkan di tahun 2005 saat beliau membeli dari seorang kolektor yang bernama Bapak Mahmudin (alm). Pak Amiril merupakan tangan ketiga pemilik Prasasti Baturaja tersebut. Menurut Pak Amiril, beliau saat itu membeli sebuah kursi lama dari Bapak Mahmudin (alm), di atas meja pasangan kursi tersebut ada sebuah batu. Bapak Mahmudin (alm) kemudian menyuruh Pak Amiril untuk membeli kursi sekalian batu tersebut. Dan akhirnya Pak Amiril memiliki kursi sekaligus batu tersebut. Sayangnya informasi mengenai asal-usul batu tersebut didapatkan dari mana, tidak kami dapatkan.

Batu bertulis tersebut kemudian kami namai sesuai nama daerahnya yaitu daerah Baturaja, maka dinamakan PRASASTI BATURAJA. Prasasti ini menambah jumlah prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di wilayah Sumatra Selatan.

Dari segi bentuk, prasasti ini merupakan patahan, bagian atas dan bawahnya sudah tidak ada lagi. Kemungkinan bentuknya mirip dengan Prasasti Kota Kapur (namun tidak besar dan tinggi). Tinggi prasasti 24 cm, lebar bagian atas 26 cm, lebar bagian bawah 20 cm. Bagian atas diameternya 19 cm, sementara bagian bawah ada dua yaitu 14 cm dan 9,5 cm. Lingkaran prasasti ini 67 cm. Jenis batu kemungkinan merupakan batu pasir atau yag dikenal dengan sand stone.

Dalam paleografinya prasasti ini sama dengan aksara yang digunakan dalam penulisan Prasasti Talang Tuwo. Aksara yang digunakan yaitu aksara Pallawa sekitar abad VII Masehi dan berisi 6 baris dengan Bahasa Melayu Kuna.

Berikut alih aksara sementara Prasasti Baturaja:

  1. pe ḍa laŋ ga ..āiŋ … mi a jg …gi(?) tu ytu gga
  2. tha … … wi dhi … jau g.. ma ja ju ri … ha ka ni da jā ri … ha …
  3. ya bhakti tatwa ājjawa pū ku … di ya ni ge la kā sa ..y sa da
  4. ma li pawwa … jātu sriwijayah hā lu mu ah ya pa
  5. … … t maka ha ji t di ramak saki
  6. … ra lā …

     

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Penelitian Tata Ruang Pemukiman Situs Tanjung Aro

Keragaman budaya atau cultural diversity adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai kebudayaan daerah tentunya memiliki keanekaragaman budaya dengan dinamikanya yang bervariasi, sejarah membuktikan kebudayaan di Indonesia mampu hidup berdampingan, saling mengisi, dan berjalan secara damai. Hubungan hubungan antar kebudayaan ini dapat berjalan dan terjalin dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika, dimana bisa dimaknai bahwa konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu pada keanekaragaman kelompok, sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan. Salah satu budaya yang akan diangkat dari penelitian ini adalah budaya masyarakat Pasemah yang mendiami wilayah Tanjung Aro pada masa megalitik.

Penelitian ini diketuai oleh: Kristantina Indriastuti, dengan anggota Tim 8 orang dan dengan penyelia dari Universitas Udayana. Seperti kita ketahui situs Tanjung Aro pertama kali dilakukan penelitian sejak zaman Belanda dan berbagai macam tinggalan megalitik dapat kita temukan seperti; 2 buah bilik batu, arca orang dibelit ular, dolmen, batu datar, selain areal pemujaan, ternyata di situs ini ditemukan juga struktur benteng tanah, parit sekitar benteng dan fragmen gerabah yang cukup tebal yang berada di luar benteng yang kemungkinannya merupakan wadah atau bekal penguburan. Untuk itu pada penelitian yang akan dilakukan pada kesempatan ini yaitu mengetahui bagaimanakah pola pemukiman dan cara-cara bermukim masyarakat pendukung situs Megalitik Tanjung Aro, apakah kaitannya antara gerabah, dan bangunan-bangunan megalitik di situs Tanjung Aro.

                 

Berdasarkan hasil penelitian baik melalui survey dan ekskavasi nampak bahwa pemukiman situs Tanjung aro menempati areal punggungan bukit Dalam penelitian tahun 2018 penulis memperoleh data tentang adanya penguburan dengan tempayan kubur yang terdapat dalam perkampungan, demikian pula tempat pemujaan serta tempat upacaranya sekitar halaman yang  yang berbentuk panjang yang terletak di bagian tengah permukiman mereka. Halaman tadi dikelilingi oleh berbagai sarana seperti arca megalitik, dolmen, batu datar, batu tetralith, rumah batu, sedangkan batu dakon dan batu lumpang terletak agak di sisi luar dari sebaran megalitik yang lainnya. Dengan demikian suatu komunitas mempunyai sarana yang berbentuk halaman yang menempati areal punggungan-punggungan bukit, dan diataranya terdapat susunan tetralith berbentuk persegi, dan di halam tersebut terlihat deretan dolmen yang megarah dari Barat ke Timur menuju ke Gunung Dempo yang terlihat berbaris membentuk garis lurus, seperti juga rumah batu yang ditemukan di situs Tanjung Aro pintunya mengarah menghadap ke gunung Dempo. Dalam hal ini jangkauan yang lebih luas seperti dimana mereka berburu, memanfaatkan hasil hutan, mengusahakan pertanian berada agak berdekatan dengan pemukiman mereka, sedangkan tebat yang merupakan salah satu unsur pemilihan mereka bermukim terdapat tidak jauh dari areal pemujaan dan pemukiman mereka.

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment